Enjoy.. :)
Monday, 11 January 2010
Melirik Pria Berdandan



Pria kini bisa berdandan sesuai karakter, baik itu formal maupun kasual turut mewarnai dunia fashion dan tidak kalah dengan busana wanita.
PRIA yang memakai pakaian rapi dalam arti kata fashionable selalu menarik perhatian dan memiliki positif poin di mata saya. The Sartorialist, blog yang memiliki urutan pertama untuk urusan street style. Tidak cuma memotret gaya para fashionista NYC saja, tapi juga hampir di seluruh dunia. Dijamin setelah melihat web blog ini, kamu akan segera terinsiprasi untuk tampil se-stylish mungkin.
Kembali pada pria yang berpakaian rapi, di dalam hati saya selalu berharap agar semua orang Indonesia khususnya Medan dapat berpenampilan baik. Saya juga tidak mengklaim bahwa semua pria di Medan ini tidak fashionable tetapi kami, kru Aplaus, mengalami sedikit kesusahan mencari pria untuk rubrik Get Spotted.
The truth of the matter is kebanyakan pria memiliki style yang hampir sama seperti kaos atau kemeja dipadu dengan celana and their best effort hanya menambahkan sebuah vest atau blazer di atas kaos/kemeja. Dan alasan yang paling baik yang pernah saya dengar dan juga baca pada sebuah novel adalah “Straight men don’t do fashion things.” dengan kata lain “Cowok tidak melek merk.” It’s so sad, isn’t it?
Bagaimana seorang pria tidak boleh mencintai fashion. Saya tidak yakin apakah statement di atas hanya berlaku di Indonesia atau berlaku juga untuk negara lain. Mungkin well-dressed men kebanyakan datang dari keluarga yang royal, berkecukupan atau at least who had power.
Padahal jika dilihat, pakaian pria bisa dibilang sangat sukses dalam industri fashion dunia. Banyak fashion desainer dan selebriti yang mengeluarkan clothing line untuk pria. Milan, dari tanggal 17 hingga 27 Januari lalu menggelar peragaan busana pria dengan berbagai kreativitas perancangnya. Meski tidak banyak elemen yang melekat pada busana pria namun beberapa gaya yang mewarnai busana-busana tersebut memberi gambaran dinamika cara pria masa kini berdandan.
Dari Burberry Porsum, Dries Van Noten, Jean Paul Gaultier dan Yohji Yamamoto, mereka masing-masing mengeluarkan rancangan seperti jaket dan coat yang masih jadi must have item. Dalam geliat industri mode seperti sekarang ini bukan hanya para perancang ditantang untuk dapat saling mengandalkan koleksinya tetapi ditujukan untuk pemakainya juga. So, are you ready?
BEHIND THE SCENE
Thanks god akhirnya pemotretan untuk edisi 113 yang bertema Street Culture telah selesai dan bisa kamu saksikan hasilnya di halaman sebelah. Gimana menurut kamu?
DI sini saya akan menceritakan sedikit suka duka dalam pemotretan ini, atau lebih tepatnya saya akan menambahkan sedikit (dikit saja ya) job description saya.
Nah, mulai dari mencari sebuah konsep, ide pemotretan, lokasi dan mood board, akhirnya kami para kru Aplaus memilih tiga lokasi yaitu Jalan S. Parman, Diponegoro dan Petronas. Pemotretan dimulai sekitar pukul 4 sore dan mengambil lokasi di Jalan S. Parman yang kemudian dilanjutkan di Jalan Diponegoro dan Petronas. Berhubung fotonya di jalanan, mau tidak mau sang model harus berganti pakaian di mobil dan merapikannya di jalanan. Otomatis ini membuat masyarakat sekitar juga turut meramaikan lokasi.
Menurut saya yang paling seru itu adalah di Jalan Diponegoro, karena kru Aplaus mengambil moment saat lampu merah di mana mobil-mobil pada berhenti. Kami—kru Aplaus—turun bersama model untuk mengambil foto. Tentu saja untuk menunggu moment yang tepat di saat lampu merah dengan kepadatan mobil itu tidak mudah. Kami harus sabar menunggu dan mengulanginya beberapa kali sampai mendapatkan foto dengan pose dan angel yang tepat. Lebih lucunya lagi, sang fotografer pun harus memanjat pohon buat mencari angle yang bagus. But, overall I really had fun.
Satu lagi soal wardrobe, sebelum pemotretan dimulai kita harus bener-bener mondar-mandir keluar butik yang branded maupun tidak untuk pengambilan barang yang cocok sesuai tema dan ukuran yang pas dengan model tersebut. Bertanggung jawab atas baju-baju yang digunakan dalam pemotretan adalah sebuah keharusan, kalau tidak kita harus menggantinya jika rusak. Then, pekerjaan saya bukan hanya sekadar mix and match tetapi juga memvisualisasikan konsep yang ada. Busana yang dipakai oleh sang model harus terlihat wah dan menarik, means that unsur fashion-nya harus dapat. Mungkin kamu berfikir pada salah satu foto, ‘What the hell she’s doing?’ Memakai tube dress, high heels, stoking, plus full aksesoris di jalanan? Yah, fashion is for fashion people. You have to get out there now and break the rules.
and this is the result







Special thanks for the models, Maggie Winardi & Steven Leonard
The Photographer, Bobby W Wennars
Me as the stylist, dan my assistant Monica :)
DI sini saya akan menceritakan sedikit suka duka dalam pemotretan ini, atau lebih tepatnya saya akan menambahkan sedikit (dikit saja ya) job description saya.
Nah, mulai dari mencari sebuah konsep, ide pemotretan, lokasi dan mood board, akhirnya kami para kru Aplaus memilih tiga lokasi yaitu Jalan S. Parman, Diponegoro dan Petronas. Pemotretan dimulai sekitar pukul 4 sore dan mengambil lokasi di Jalan S. Parman yang kemudian dilanjutkan di Jalan Diponegoro dan Petronas. Berhubung fotonya di jalanan, mau tidak mau sang model harus berganti pakaian di mobil dan merapikannya di jalanan. Otomatis ini membuat masyarakat sekitar juga turut meramaikan lokasi.
Menurut saya yang paling seru itu adalah di Jalan Diponegoro, karena kru Aplaus mengambil moment saat lampu merah di mana mobil-mobil pada berhenti. Kami—kru Aplaus—turun bersama model untuk mengambil foto. Tentu saja untuk menunggu moment yang tepat di saat lampu merah dengan kepadatan mobil itu tidak mudah. Kami harus sabar menunggu dan mengulanginya beberapa kali sampai mendapatkan foto dengan pose dan angel yang tepat. Lebih lucunya lagi, sang fotografer pun harus memanjat pohon buat mencari angle yang bagus. But, overall I really had fun.
Satu lagi soal wardrobe, sebelum pemotretan dimulai kita harus bener-bener mondar-mandir keluar butik yang branded maupun tidak untuk pengambilan barang yang cocok sesuai tema dan ukuran yang pas dengan model tersebut. Bertanggung jawab atas baju-baju yang digunakan dalam pemotretan adalah sebuah keharusan, kalau tidak kita harus menggantinya jika rusak. Then, pekerjaan saya bukan hanya sekadar mix and match tetapi juga memvisualisasikan konsep yang ada. Busana yang dipakai oleh sang model harus terlihat wah dan menarik, means that unsur fashion-nya harus dapat. Mungkin kamu berfikir pada salah satu foto, ‘What the hell she’s doing?’ Memakai tube dress, high heels, stoking, plus full aksesoris di jalanan? Yah, fashion is for fashion people. You have to get out there now and break the rules.
and this is the result






Special thanks for the models, Maggie Winardi & Steven Leonard
The Photographer, Bobby W Wennars
Me as the stylist, dan my assistant Monica :)
Wednesday, 22 April 2009
Novel Edition
Ini adalah beberapa foto modis pada edisi 95 (Novel Edition)
Model : Tzar Kirana Lubis dan Evelyn Mirandha
Styling : Cici Liu Putra
Photographer : M. Amir Imanuddin
Wardrobe: Skin Boutique Medan, Planet Surf, Planet Sport, IPOYO, Optik Lichin & Sucou, DMK, City Time, Body & Soul, Gaudi, Polkadot, The Executive.







Model : Tzar Kirana Lubis dan Evelyn Mirandha
Styling : Cici Liu Putra
Photographer : M. Amir Imanuddin
Wardrobe: Skin Boutique Medan, Planet Surf, Planet Sport, IPOYO, Optik Lichin & Sucou, DMK, City Time, Body & Soul, Gaudi, Polkadot, The Executive.
Tuesday, 17 March 2009
Sabtu sore..
Monday, 16 March 2009
Pastel + Pastel “SPOTTED!!!!”
HARTONO GAN - Medan Fashion Designer
Zodiak: Capricorn
Favourite Brand: Jil Sander dan Raf Simons
Hobi: Ngopi, can’t live without coffee
ITEMS:
Kemeja: BOSS HUGO BOSS
Celana: Hartono Gan (My Own Label)
Sepatu: Adidas Superstar Anniversary Edition
Jam tangan: BCBG Maxazria
I also did some questionare for him
Check out!! here (Flower Power Edition)
Sssst.. I received so many comments from dis!! u also can comment below.. :p
Niweys, thanks for you ya, bersedia di GS tim kamii..
Illustration Journey
Mendengar kata ilustrasi untuk sebagian orang pasti meragukan apa arti defenisi itu sendiri. Saya juga menanyakan pada diri sendiri, “Illustrasi itu seperti sketch bukan sih?” Nah, akhirnya saya cari informasi di google mengenai hal ini, tetapi untuk kali ini saya tidak akan membahas tentang apa arti ilustrasi itu. Tetapi, yah, sebuah ilustrasi yang berhubungan dengan fashion, apalagi kalau bukan ‘Ilustrasi Mode’. =)
Mulanya keberadaan ilustrasi mode ini dimulai pada awal abad ke 18. Pada saat itu diperlukan media untuk mempublikasikan informasi mengenai mode yang sedang happening. Pada waktu itu juga majalah The Lady’s Magazine untuk pertama kalinya menerbitkan illustrasi mode pada halaman fashion. Ilustrasi yang dibuat pun menggunakan teknik cukil kayu, graving atau pochoirprint. Majalah keluaran London ini juga sangat diminati oleh kaum wanita sebagai pedoman dalam berpakaian yang fashionable. Awal tahun 1970, ilustrasi mode pakaian ini dipromosikan ke seluruh dunia barat dengan tekhnik engraving (ukiran) yang ternyata mendapat perhatian lebih oleh kaum orang kaya.


Akhir abad ke 19, ilustrasi mode pun digantikan oleh tekhnik cetak full colour yang lebih modern. Bersamaan itu pula tekhnik fotografi mulai muncul di majalah-majalah. Hingga pada akhirnya memasuki abad ke 20, tekhnik fotografi di berbagai majalah terus meningkat dan pembaca majalah lebih menyukai reportase mode berupa fotografi, bukan lagi berupa ilustrasi.
Perang dunia II mengubah mode secara keseluruhan. Majalah-majalah mode seperti Vogue dan Harpers Bazaar lebih banyak menggunakan fotografi untuk menampilkan halaman fashion spread. Ilustrasi mode hanya diperlukan sewaktu waktu seperti pada advertising campaign. Kedudukan ilustrasi mode telah tergeser sepenuhnya oleh fotografi pada tahun 60an dan pada waktu itulah ilustrasi benar-benar menghilang dari majalah. Para fotografer dan fotomodel pun menjadi selebriti baru dalam dunia fashion.
Hingga pada saat ini banyak sekali orang-orang yang menggeluti bidang fotografi mode, bukan berarti ilustrasi mode ini hilang begitu saja. Tetapi bagaimanapun sulit untuk mencari seseorang yang memang mengkhususkan diri berkecimpung menjadi ilustrasi mode. Apalagi di Indonesia. Apa mungkin dikarenakan memang pasarnya pun tidak ada?
(Peace..)
Mulanya keberadaan ilustrasi mode ini dimulai pada awal abad ke 18. Pada saat itu diperlukan media untuk mempublikasikan informasi mengenai mode yang sedang happening. Pada waktu itu juga majalah The Lady’s Magazine untuk pertama kalinya menerbitkan illustrasi mode pada halaman fashion. Ilustrasi yang dibuat pun menggunakan teknik cukil kayu, graving atau pochoirprint. Majalah keluaran London ini juga sangat diminati oleh kaum wanita sebagai pedoman dalam berpakaian yang fashionable. Awal tahun 1970, ilustrasi mode pakaian ini dipromosikan ke seluruh dunia barat dengan tekhnik engraving (ukiran) yang ternyata mendapat perhatian lebih oleh kaum orang kaya.


Akhir abad ke 19, ilustrasi mode pun digantikan oleh tekhnik cetak full colour yang lebih modern. Bersamaan itu pula tekhnik fotografi mulai muncul di majalah-majalah. Hingga pada akhirnya memasuki abad ke 20, tekhnik fotografi di berbagai majalah terus meningkat dan pembaca majalah lebih menyukai reportase mode berupa fotografi, bukan lagi berupa ilustrasi.
Perang dunia II mengubah mode secara keseluruhan. Majalah-majalah mode seperti Vogue dan Harpers Bazaar lebih banyak menggunakan fotografi untuk menampilkan halaman fashion spread. Ilustrasi mode hanya diperlukan sewaktu waktu seperti pada advertising campaign. Kedudukan ilustrasi mode telah tergeser sepenuhnya oleh fotografi pada tahun 60an dan pada waktu itulah ilustrasi benar-benar menghilang dari majalah. Para fotografer dan fotomodel pun menjadi selebriti baru dalam dunia fashion.
Hingga pada saat ini banyak sekali orang-orang yang menggeluti bidang fotografi mode, bukan berarti ilustrasi mode ini hilang begitu saja. Tetapi bagaimanapun sulit untuk mencari seseorang yang memang mengkhususkan diri berkecimpung menjadi ilustrasi mode. Apalagi di Indonesia. Apa mungkin dikarenakan memang pasarnya pun tidak ada?
(Peace..)
Subscribe to:
Posts (Atom)

